Selasa, 28 Februari 2012

Keberhasilan penangkaran Maleo capai 50 persen


Gorontalo (ANTARA News) Tingkat keberhasilan penangkaran burung Maleo, salah satu jenis satwa endemik Sulawesi di kawasan konservasi Hungoyono, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), mencapai 50 persen.

Usman, Asisten Peneliti dari Wildlife Conservation Society (WCS), sebuah organisasi lingkungan yang menangani kelestarian Burung Maleo mengatakan sebelumnya tingkat keberhasilan hanya mencapai 30 persen.

"Kini sudah 3.300 ekor burung maleo yang ditangkarkan dan dikembalikan ke habitatnya semula," katanya, Selasa.

Dia mengatakan, tingkat keberhasilan ini tidak lepas dari iklim yag kondusif serta makin kurangnya tingkat perburuan burung Maleo.

Namun demikian, kata dia, keberadaan burung pemalu yang dikenal antipoligami ini, masih terancam, antara lain karena maraknya aktivitas pertambangan dan pembabatan hutan.

"Aktivitas pertambangan dan pembabatan hutan itu akan merusak habitat burung maleo," kata dia.

Kamp Hungoyono yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bone Bolango, lanjutnya, merupakan tempat terbesar habitat burung Maleo di Gorontalo, di kawasan ini WCS mendirikan empat tempat penangkaran burung maleo untuk mencegah kepunahan.

Burung maleo yang juga dikenal sangat pemalu ini, pada umumnya bertelur di tempat-tempat yang memiliki panas bumi, seperti di tepi pantai, dan di di kawasan yang memiliki energi panas bumi (Geothermal), seperti halnya yang terdapat di Hungoyono.

Habitat burung maleo di Gorontalo, juga terdapat di cagar alam Panua, Kabupaten Boalemo dan Pohuwato.

Selasa, 27 Desember 2011

Tujuh hutan mangrove Indonesia menjadi percontohan


Jakarta (ANTARA News) - Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS dan PS) Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Jakarta, Selasa, menandatangani kerja sama dalam pengelolaan tujuh kawasan hutan mangrove atau bakau yang akan dijadikan percontohan di lingkup ASEAN.

"Ketujuh area model itu menjadi lokasi pembelajaran mangrove komunitas ASEAN dan internasional," kata Direktur Bina Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Ditjen BPDAS dan PS, Kemenhut, Billy Indra.

Ketujuh kawasan hutan mangrove yang akan menerapkan mekanisme "share learning" itu berlokasi di Surabaya, Lampung, Bali Barat, Alas Purwo (Banyuwangi), Balik Papan, Tarakan, dan Jepara.

Selain lokasi pembelajaran, ketujuh kawasan tersebut juga menjadi tempat pengembangan kemampuan ekonomi masyarakat lokal dari hutan mangrove.

Berdasarkan survei yang dilakukan JICA, masing-masing area mempunyai keunggulan komparatif yang berbeda-beda.

Chief Advisor JICA, Takahisa Kusano, mencontohkan mangrove Surabaya dan Balikpapan, memiliki keunggulannya dalam sistem ekonomi pesisir terpadu. Mangrovenya berfungsi merehabilitasi lahan bekas tambak, pengurangan erosi, dan ekowisata.

Sementara itu, kawasan mangrove Tarakan dan Alas Purwo yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo yang memiliki keunggulan dari atraksi wisata alam.

Kerja sama pengembangan mangrove antara Indonesia dan Jepang melalui JICA, kata Billy, sudah terjalin sejak 1991. Kerja sama itu terbagi menjadi empat fase, yaitu fase pertama (1991-1999) melalui rehabilitasi mangrove di Bali dan fase kedua (2001-2006) melalui pembangunan pusat informasi mangrove di Bali.

Sementara fase ketiga (2007-2010) melalui survei dan pemilihan tujuh area percontohan mangrove Indonesia di ASEAN dan fase keempat (2011 ? 2014) melalui penandatanganan kerjasama, dan proyek konservasi mangrove pada tujuh "project sites" tersebut.

Lahan kritis Gunungpati jadi surga durian


Semarang (ANTARA News) - Lahan kritis seluas 139,6 hektare milik Pemerintah Kota Semarang, di antaranya di Kelurahan Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, kini telah berubah menjadi kebun durian montong dan surga bagi pecinta kuliner.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraini bersama rombongan dan Wali Kota Semarang Soemarmo melakukan panen perdana durian, di tiga kelurahan yakni Mangunsari, Gunungpati, dan Nongkosawit, Sabtu.

Dalam panen raya tersebut, ia mengambil durian yang sudah masak dengan cara memotong tali yang mengikat buah durian dari dahannya.

Untuk mengambil buah durian, pengunjung ke wilayah itu tidak harus naik pohon karena memang ketinggian pohon durian hanya berkisar dua hingga tiga meter dan rata-rata buah berada di dahan bagian bawah, sehingga terkadang harus membungkuk untuk memetiknya.

Rata-rata satu pohon durian di Kelurahan Nongkosawit bisa berbuah hingga 10 buah dengan potensi buah mencapai 60 buah.

Diah menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan kritis tersebut bagian dari program konservasi lahan Semarang atas dan pengentasan kemiskinan yang mendapat bantuan dari Japan Social Development Fund (JSDF) sebesar 1,2 juta dolar Amerika Serikat dan dana pendampingan dari APBD Kota Semarang Rp1,3 miliar.

"Program bantuan ini baru di Semarang sebagai `pilot project` karena pemerintah kota setempat dapat menyediakan lahan kosong," kata Diah.

Diah mengatakan setelah mendapatkan bantuan dari JSDF (program tahun 2005-2007), nantinya akan diteruskan dengan anggaran dari Kementerian Dalam Negeri dan terlebih dahulu dievaluasi.

Dalam kesempatan sama, Wali Kota Semarang ,Soemarmo, mengatakan bahwa pemanfaatan lahan kritis tersebut bagian dari penanggulangan kemiskinan.

"Petani yang sebelumnya tidak mengetahui cara menanam durian, hanya menjadi petani penggarap serta tidak bekerja dilatih dan difasilitasi untuk menanam durian," katanya.

Selain di Kelurahan Gunungpati, lahan kritis yang kini sudah dijadikan lahan bermanfaat seperti untuk kebun durian, rambutan, dan kelengkeng tersebar di lima kecamatan yakni Kecamatan Gunungpati (seluas 84,86 hektare).

Kemudian di Kecamatan Ngaliyan (5,8 hektare), Tembalang (5,6 hektare), Banyumanik (10,52 hektare), dan di Kecamatan Mijen luas lahan sebanyak 32,82 hektare. (*)

Sabtu, 29 Oktober 2011

Pemulihan hutan di Indonesia jadi keharusan


Tanggamus, Lampung (ANTARA News) - Pemulihan hutan di Indonesia sudah menjadi keharusan sehingga perlu langkah langkah yang semakin baik dengan adanya kerja sama antara masyarakat dan pemerintah, kata Vokal Point Major Groups Initiative of Indigenous People on United Nation Forum on Forest (UNFF) PBB, Hubertus Samangun.

"Kerusakan hutan harus terus diperbaiki sehingga keutuhannya bisa menjadi sumber kemakmuran rakyat dapat terpenuhi," ujarnya disela-sela peringatan tahun internasional kehutanan 2011 di Teluk Kiluan, Tanggamus, Sabtu.

Menurut dia, kerusakan hutan yang semakin tinggi harus disikapi dengan cepat sehingga tingkat kerusakannya menjadi berkurang.

Ia menyebutkan, Teluk Kiluan berdasarkan masyarakat setempat pada 1977 masih dipenuhi dengan hutan, namun saat ini sudah semakin berkurang.

"Dalam jangka 34 tahun dari sekarang cukup lama, sehingga perlu adanya upaya atau langkah nyata guna mengurangi kerusakan hutan di negeri ini," ujarnya mengharapkan.

Salah satu upayanya, ia melanjutkan, dengan menggalakkan penanaman pohon keras serta pemberian pemahanan kepada masyarakat khususnya anak dan remaja untuk selalu menjaga serta melestarikan hutan.

"Saya sangat apresiasi kegiatan peringatan tahun internasional kehutanan 2011 di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung karena sudah melibatkan pelajar yang ada di provinsi ini," katanya.

Adanya partisipasi generasi muda, ia mengemukakan, merupakan salah satu peluang besar bagi keberhasilan pemulihan hutan.

Selain itu, pemulihan hutan bakau (mangrove) juga harus turut diperhatikan sehingga kelestarian alam khususnya di sekitar pesisir dapat terawat secara baik.

"Rusaknya kawasan hutan mangrove yang merupakan green belt atau sabuk hijau pantai akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di daerah tersebut, baik dari segi ekonomi dan keamanan," kata Hubertus.

Ia menjelaskan, keberadaan hutan harus dilihat dari sisi ekologinya maka dengan sendirinya nilai secara ekonomi akan mengikuti sehingga kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dapat terpenuhi.

Ketua panitia peringatan tahun kehutanan internasional 2011, Rusli Soheh, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan guna memberikan pemahaman terhadap generasi muda baik tingkat SD hingga SMA.

"Pelajar ini tidak hanya berasal dari Kabupaten Tanggamus melainkan ada juga dari daerah lainnya seperti Bandarlampung serta beberapa orang mahasiswa dari Universitas Trisakti Jakarta," kata dia yang juga wakil ketua DPRD Tanggamus.

Ia berharap dengan adanya kegiatan itu dapat memberikan warna baru bagi para generasi muda untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan di daerahnya.

Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan penanaman sebanyak 140 bibit mangrove guna melestarikan hutan bakau di daerah itu.

Kamis, 25 Agustus 2011

Siapa Suka Dengan kelinci


Disela-selah kesibukankuliahku, aku juga masih sempat menangkar Kelinci, bagi yang berminat dapat menghubungi aku.

Anthuriumku


Jenis Tanaman hias ini pernah menghebohkan Nusantara, heboh karena harganya yang begitu melangit, tetapi dari segi harga untuk saat ini jenis tanaman hias ini dapat dikatakan biasa-baiasa saja. lepas dari harga maupun kepopularitasan jenis tanaman hias ini, saya masih sangat suka, karena masih enak untuk dilihat dan dapat menjadi penghias halaman depan rumah.

Rabu, 20 Juli 2011

Dua Rafflesia Akan Mekar Di Bengkulu


Bengkulu (ANTARA News) - Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, menemukan dua bonggol atau calon bunga Rafflesia arnoldii yang diperkirakan mekar dalam beberapa pekan mendatang.

"Kami menemukan dua bonggol rafflesia di hutan Rindu Hati, ukurannya sebesar bola kaki yang kami perkirakan mekar sekitar dua minggu lagi," kata Koordinator Kelompok Peduli Puspa Langka, Holidin, di Bengkulu, Rabu.

Ia mengatakan, jika dua bonggol atau calon bunga tersebut mekar bersamaan maka ini akan menjadi kejadian pertama. Sebab selama ini bunga tersebut hanya mekar satu kuntum secara bergantian.

Jika dilihat dari ukuran kedua bonggol tersebut kata dia sangat memungkinkan untuk mekar serentak.

"Ukurannya hampir sama dan mudah-mudahan mekar juga bersamaan dan ini akan menjadi kejadian pertama dan unik," tambahnya.

Apalagi jarak antara kedua bunga itu hanya satu meter sehingga jika keduanya mekar bersamaan pengunjung bisa menikmati dua bunga mekar dalam satu lokasi.

Holidin mengatakan selama 2001 terdapat enam raflesia yang mekar di kawasan hutan lindung itu.
Indonesia merupakan pusat pertumbuhan berbagai spesies rafflesia ini, karena terdapat 14 spesies dari 25 spesies yang diketahui tumbuh di dunia.

Akan tetapi cuma ada enam temuan spesies baru dalam 30 tahun penelitian dilakukan di Indonesia, sementara Filipina bisa mendata lebih banyak lagi hanya dalam waktu tiga tahun penelitian saja di negara itu.

Selain dua calon bunga tersebut masih ada 15 bonggol lainnya yang ditemukan dalam radius 10 meter di lokasi tersebut.

"Kalau tidak ada gangguan satwa liar atau tangan usil manusia maka bunga-bunga ini akan mekar bergantian hingga akhir tahun," tambahnya.

Ia mengatakan kelompok peduli puspa langka Desa Tebat Monok biasanya melakukan penjagaan di dalam hutan saat bunga itu mekar.
(ANT)